-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Memaknai Hari Lingkungan Hidup Dengan Sikap & Mental

Selasa, 05 Juni 2018 | Juni 05, 2018 WIB | 0 Views Last Updated 2018-06-04T19:35:59Z

Diantara tanggal penting yang diperingati setiap tanggal 5 Juni di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah Hari Lingkungan Sedunia. Meski gaungnya mungkin tidak seheboh peringatan tanggal penting lainnya, Hari Lingkungan Sedunia yang pertama kali dicetuskan pada tahun 1972 ini pada dasarnya memiliki tujuan mulia sebagai gerakan untuk meningkatkan kesadaran hidup manusia sejagat.

Ditinjau dari segi sejarahnya, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini mengemuka pada tahun 1970-an saat pelaksanaan Konferensi Stockholm tahun 1972. Di antara isu penting yang dibahas dalam konferensi ini adalah terkait dengan permasalahan lingkungan (United Nation Confrence of Human Enviroment, UNCHE). Konferensi yang diselengarakan pada tanggal 5-12 Juni 1972 ini akhirnya menetapkan tanggal 5 Juni sebagai hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berikutnya pada tahun 1987 terbentuklah suatu Komisi Dunia tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (World Commision on Enviroment and Development), sehingga melahirkan sebuah konsep yang berkelanjutan. Hal ini kemudian diperkuat lagi dalam konferensi di Rio de Jenairo, Brasil, pada tahun 1992 yang diadakan oleh Majelis Umum PBB.

Catatan Penting tentang Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup 

Pada dasarnya harus disadari bahwa kesejahteraan umat manusia, lingkungan, dan fungsi ekonomi, sangat tergantung pada pengelolaan yang bertanggung jawab atas sumber daya alam. Jumlah penduduk dunia yang mencapai 7 miliar dan akan terus bertambah, seiring dengan laju pembangunan yang berlangsung pesat. 

Kepedulian terhadap pelestarian lingkungan bisa dilakukan dengan cara mendaur ulang barang-barang bekas (sampah) yang bertaburan di sekitar lingkungan kita. Hal ini ditujukan untuk menghindari polusi sekaligus menjaga kesehatan masyarakat. Contoh barang yang di sekeliling lingkungan kita yang bisa didaur ulang antara lain kulit pisang menjadi minyak dengan tambahan berbagai bahan kimia lainnya, daur ulang plastik menjadi minyak, daur ulang botol plastik menjadi bunga lampion, menjadi bunga dan kreasi-kreasi lainnya. 

Betapa indahnya jika kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan barang-barang bekas menjadi benda yang bisa dipakai kembali seperti ini dapat dimasyarakatkan secara luas. Bahkan dewasa ini pemanfaatan daur ulang sedemikian rupa dikembangkan menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan yang secara tidak langsung telah ikut serta dalam memperluas lowongan kerja. 

Tantangan Lingkungan Indonesia Saat Ini 

Ketika tulisan ini mulai saya tuliskan, saya memandangi sekeliling seluruh isi ruangan rumah. Setidaknya ada puluhan barang yang terbuat dari plastik, seluruh atau sebagiannya. Kalau termasuk benda yang ketika dibeli juga dibungkus oleh plastik, jumlahnya bertambah banyak lagi. Di ruangan kamar saya yang luasnya tak lebih dari 10 meter persegi ini, plastik benar-benar dominan dah. 

Dominasi plastik sebagai materi memang luar biasa dalam kehidupan manusia modern. Kita sangat terbiasa dengan barang-barang yang dibuat oleh plastik. Tentu ini juga terkait dengan materi asal plastik yang merupakan hasil ikutan dari kehausan manusia modern atas bahan bakar minyak. Tetapi, seandainya proses kimiawi lebih jauh tak membuatnya menjadi barang yang kuat, tahan lama, dan mudah dibentuk dan dimodifikasi menjadi apa pun, tentu plastik tak bakal jadi betul-betul populer seperti sekarang.

Lantaran industri, dan kita para konsumen, sangat diuntungkan dengan sifat-sifat plastik itu, maka produksi dan konsumsi plastik terus saja meningkat secara eksponensial. Sangat jarang terlintas di benak sebagian besar manusia akibat dari produksi dan konsumsi itu. Padahal, di tahun 1995—ketika konsumsi plastik belumlah semassif sekarang - saja Jeffrey L. Meikle telah menuliskan peringatan soal dampak sosial budaya dan (sedikit soal) lingkungan dari plastik lewat American Plastic : A Cultural History.


Kitab yang sangat bagus itu ditulis oleh Meikle yang sangat mumpuni secara teknis untuk bicara soal plastik, tetapi secara sengaja ditujukan kepada pembaca awam. Halaman-halaman awal buku itu bercerita tentang semangat utopian dalam pencarian dan optimisme luar biasa ketika plastik ditemukan di tahun 1907. Buku itu kemudian beranjak menceritakan bagaimana plastik kemudian menjadi materi yang mendominasi pembuatan material, terutama material pembungkus segala sesuatu.


Plastik membentuk dan membungkus alam. Tetapi, saya juga jelas mendeteksi ketegangan dan kekhawatiran yang terus naik secara perlahan, bahwa ini semua akan berakhir dengan bencana. Plastik bakal mencekik Bumi hingga kehabisan nafas.

Lalu, pada tahun 2011 muncullah karya besar Susan Freinkel, Plastic: A Toxic Love Story. Buku yang diganjar berbagai penghargaan itu mengingatkan kembali umat manusia pada persoalan yang terlalu dianggap enteng. Kita semua bukan saja menyukai plastik, melainkan sudah seperti jatuh cinta habis-habisan terhadap materi ini. Dan itu seperti cinta tanpa syarat. Kita memeluk erat plastik, dan tak rela berpisah dengan segala sifat “baik”-nya yang kompatibel dengan kehidupan modern.
Tetapi, Freinkel menampar pipi kita semua dengan satu pesan kuat : "plastik bukanlah pasangan cinta yang baik". Ia bertutur tentang 8 benda plastik yang kita cintai, termasuk sisir, kursi, dan botol minuman. Setelah di bagian awal dia menuturkan bahwa penemuan plastik di awalnya disambut sebagai jalan keluar dari pemanfaatan sumberdaya alam yang langka, dia kemudian membawa pembaca kepada konsekuensi yang tak pernah dipikirkan oleh para penemu plastik itu. Plastik mulai digambarkan seperti pacar yang banyak tingkahnya.

Semua masalah terkait plastik, yaitu dibuat dari bahan bakar minyak, mengandung racun dari bahan aditif, meracuni laut, berbahaya bagi hewan liar, sangat sedikit yang didaur ulang, dan seterusnya. Freinkel tidak hanya berbicara soal dampak lingkungan, melainkan juga kondisi para pekerja Tiongkok yang bekerja di pabrik-pabrik yang membuat kita nyaman dengan produk plastik. Dan, seperti yang diketahui juga dari sumber-sumber lain, kondisi itu jauh dari nyaman.

Bagaimanapun Indonesia ada di tengah-tengah masalah ini. Plastik asal Indonesia adalah nomor dua terbanyak yang mengotori Samudera Pasifik. Kalau Kapten Moore memungut sembarang plastik di perjalanannya mengikuti ribuan kilometer sampah di tengah samudera itu, peluangnya memungut sampah dari Indonesia sangatlah besar.

Jauh-jauh hari sebelum Hari Bumi 2018 lalu, Indonesia telah menjadi sorotan dunia. September lalu kasus ini mencuat, dan membuat Indonesia berjanji menggelontorkan US$1 miliar per tahun untuk menangani dosa kolektif kita mencemari Pasifik. Tujuannya, agar di tahun 2025 kita bisa mengurangi 70% sampah plastik kita yang mengambang di lautan.

Awal Maret lalu, seorang penyelam asal Inggris, Rich Horner, mengunjungi Nusa Penida, Bali, lalu nyemplung ke Manta Point. Di situ dia bertemu dengan banyak makhluk laut menarik, termasuk, tentu saja, pari manta. Tetapi, dia mendapat bonus bertemu banyak “makhluk” laut lainnya: sampah plastik. Kantong, botol, sedotan, gelas, dan lembaran plastik bertebaran di mana-mana.

Memang, Bali mengenal musim sampah di lautan sekitarnya, dan itu sangatlah menyedihkan. Gerakan pembersihan sampah di pantai, bahkan pelarangan plastik di seantero Bali tetap tak akan menyelesaikan masalah ini, lantaran sampah itu datang dari berbagai tempat, bak turis yang berkunjung ke sana.

Selang dua minggu kemudian, Indonesia digegerkan oleh temuan bahwa mikroplastik dalam jumlah tertentu ditemukan di dalam merek-merek air minum dalam kemasan yang dijual di sini. Sempat membuat geger beberapa hari, lalu hilang dari kesadaran kita semua. BPOM sendiri mengeluarkan pernyataan yang “menenangkan”, yaitu bahwa belum ada studi yang secara konklusif menjelaskan dampak kesehatan bagi manusia. Namun, tentu saja, belum ada hasil penelitiannya, bukan berarti tak ada bahaya yang mengintai.

Mikroplastik telah disinggung oleh Freinkel, juga Moore dan Phillips. Mereka mengingatkan kemungkinan bahayanya. Penelitian dalam skala kecil, yaitu di industri bir di Jerman, menemukan bahwa di seluruh sampel merek bir mikroplastik telah ditemukan. Itu di tahun 2014, tiga tahun setelah buku Freinkel terbit.

Setahun kemudian, diluncurkan studi yang jauh lebih besar, dan ditemukanlah fakta bahwa 83% air minum di seluruh dunia mengandung mikroplastik.

Di Amerika Serikat bahkan angkanya mencapai 94%. Jadi, kalau kemudian studi di air minum dalam kemasan Indonesia menemukan hal yang sama, itu tak mengherankan. Kalau di kemudian hari ditemukan bahwa sebagian besar air minum lainnya juga mengandung mikroplastik, itu juga bukan sesuatu yang aneh.

Plastik memang tidak biodegradabel. Karenanya, alih-alih benar-benar terurai di alam, ia hanya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, semakin kecil, hingga menjadi mikroskopik. Tetapi, persis di situ masalahnya: tak kelihatan bukan berarti tidak ada, dan belum ada hasil penelitian tentang dampak kesehatannya bukan pula berarti tak ada dampak itu. Dan itu berarti kita tak bisa berpangku tangan hingga seluruh masalahnya tampak jelas.

Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018 ini, kita kembali dibuat terkejut dengan makalah Lebreton dkk yang bertajuk Evidence That the Grate Pacific Garbage Patch is Rapidly Accumulating Plastic di jurnal Nature. Makalah yang terbit di akhir Maret lalu mengumumkan bahwa volume sampah plastik Pasifik itu setidaknya 4 kali lipat, bahkan hingga 16 kali lipat, dari yang selama ini diperkirakan.

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018, Kendalikan Sampah Plastik (#BeatPlasticPollution), menurut saya, tak bisa lebih tepat waktu lagi. Kita perlu lebih cerdas dalam mengelola sampah plastik—tak seperti sekarang di mana kita mendaur ulang 9%-nya, membakar 12%-nya, dan membiarkan 79% plastik berserakan mengotori Bumi.

Berdasarkan uraian di atas, maka Hari Lingkungan Hidup Sedunia patut dijadikan sebagai momentum oleh masyarakat Indonesia untuk menjadi agen perubahan demi menjaga kelestarian lingkungan. Mulailah dari diri sendiri dari hal-hal sederhana untuk mencintai lingkungan hidup. 

Dengan demikian anak cucu kita nanti masih dapat merasakan apa yang kita rasakan sekarang ini.
"Mengakhiri Polusi Plastik tak bisa lebih tepat waktu lagi. Kita perlu lebih cerdas mengelola sampah plastik - tak seperti sekarang saat kita mendaur ulang 9%-nya, membakar 12%-nya, dan membiarkan 79% plastik berserakan mengotori Bumi. Anda termasuk masih memeluk plastik?"

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2018






Salam Lestari !

Aziz Aripuddin
[Blogger | CAO I-Lontara Foundation Luwu | Pegiat Lingkungan Hidup]


*Sumber Tulisan :
Disadur dari berbagai opini, artikel bebas dan pemikiran pribadi
×
Berita Terbaru Update